Selamat Menikmati Malam Pertama Hingga Malam Terakhir Kehidupan

Judul di atas adalah ucapan yang diberikan oleh salah satu rekan kerja saya saat saya dan suami menikah. Sebuah kartu sederhana yang disisipkan pada buku berjudul ”Membahagiakan Suami sejak Malam Pertama.” (Insya Allah buku ini akan saya ulas pada kesempatan lain) Kalimat yang menurut saya sangat sederhana, tapi mengandung beribu makna. Terkadang, sampai sekarang saya masih suka copas kalimat tersebut untuk disisipkan pada kado perkawinan yang kami berikan pada pengantin-pengantin baru🙂

Apa makna malam pertama bagi saya? Tak hanya berkutat di seputar pengantin baru, (karena sekarang sudah memasuki tahun ke-6 pernikahan ceritanya…) tapi berarti beberapa hal bagi saya, antara lain :

  1. Malam pertama saya dilahirkan ke dunia (meskipun dari cerita mama dan papap saya lahirnya pagi, hehehe…). Waktu itu udah ada pemadaman bergilir lho… Saya sampai di apit 2 botol minuman yang berisi air hangat ”for keeping me warm and comfortable.” (Sekarang sih jangan ditanya saya sebesar apa…   :D)
  2. Malam pertama saya menjadi isteri, tentunya…  😉 tidak ada pemadaman bergilir kecuali pemadaman yang telah direncanakan😀 Akan tetapi selain pengalaman itu, terbersit rasa sedih saat upacara pernikahan berlangsung, karena mama tidak sempat menyaksikan hari bahagia putri bungsunya.
  3. Malam pertama saya menjadi ibu. Saya melahirkan si kecil melalui operasi caesar karena ketuban yang pecah sebelum waktunya. Saat itu rasanya benar-benar sebatang kara ; masuk rumah sakit ditemani teman kost (karena sedang di pulau lain untuk tugas belajar), suami tidak ada, orangtua pun tidak bisa menemani. Begitu selesai operasi saya masih ditempatkan di ICU, bersama komawan dan komawati (maksudnya orang-orang yang koma) di sekitar saya, sampai keesokan harinya. Bagi saya, malam pertama yang ketiga ini bisa terjadi karena kekuatan do’a yang dipanjatkan oleh seluruh keluarga besar, meskipun kami semua terpisah oleh jarak dan waktu…
  4. Malam pertama nanti saya berada di alam barzah…. Beberapa ’malam pertama’ sebelumnya Alhamdulillah telah saya lewati dengan baik. Tinggal malam pertama yang terakhir iilah yang belum bisa saya gambarkan; Apa yang akan terjadi pada saya kelak? Bisakah saya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh malaikat kelak? Akankah saya merasakan ketenangan di sana kelak? Atau akankah saya malah mendapatkan pedihnya siksa kubur? Akankah saya mendapatkan kiriman do’a untuk melapangkan ’kamar’ terakhir saya itu?

Itulah malam-malam pertama yang menjadi inspirasi bagi saya dalam banyak hal. Walaupun pada awalnya kata ’malam pertama’ yang saya dapatkan ditulis sebagai ucapan yang mengacu pada moment pernikahan kami, tetapi malah membuat saya merenung. Betapa saya teramat kecil, betapa saya tidak mempunyai kuasa.. Saya yang hina ini masih harus banyak mengejar ketinggalan amal dan ibadah, serta harus lebih sering lagi menyucikan pikiran, hati dan juga diri, agar malam terakhir kehidupan saya di dunia bisa menjadi malam pertama yang indah di sana kelak… Amien…

(Terimakasih pada Pak Tarman Effendi atas kalimat yang selalu mengingatkan saya akan malam pertama….)

About rika novyanti

great, funny, tough, wonderful, but I am not wonder woman.... View all posts by rika novyanti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: